Kamis, 30 Oktober 2008

Pemuda dan Kompleksitas Seksualitas

Hari sumpah pemuda. Hari ini aku diajak melihat lebih dekat pemuda Indonesia. Solo hari ini sibuk, di tiap pojok kota memerah. Khari ini sang ibu soan ke solo. Segerombolan orang berseragam merah, partisan sebuah partai politik tumpah ke jalan. Laki-laki perempuan, tua-muda, bahkan anak-anak. Tapi wajah-wajah itu sebagian besar adalah wajah-wajah para pemuda Indonesia. Katanya hari ini akan dipasang 28.000 bendera merah putih. Symbol kebangkitan negeri dan kaum mudanya. Lalu jalan menjadi ramai seketika, motor disetel menderu-deru, tanpa helm, bertiga di atas motor … klakson bersahutan, seperti mengusir para pengguna jalan yang melaju pelan. Dan polisi mengatur perlahan, tak beranjak dari tempatnya. Dan para pengguna jalan pun hanya bisa menggerutu, seolah maklum … pemakluman yang sejak lama. Dan hari ini masih 28 oktober 2008, 100 tahun sumpah pemuda.

Kami berbelok ke kantor GF ATM untuk Surakarta. Berbicara dengan pria setengah baya, coordinator GF Surakarta. Di sana kami dihidangkan angka-angka penderita HIV yang jumlahnya sudah ratusan, mulai dari swasta, pns, mahasiswa sampai ibu rumah tangga. Beberapa diantaranya meninggal, yang lain dalam perawatan atau CST kami menyebutnya tiap tahun jumkahnya tak pernah turun, selalu bertambah kasus baru dan meningkat kurvanya. Baguss kalau dilihat oleh funding, artinya jumlah jangkauan makin baik. Makin banyak kasus terungkap makin banyak program intervensi yang bisa dilakukan, tentu saja bukan intervensi untuk berbuat mereka berhenti melakukan aktivitas seksual berisiko—tapi menganjurkan mereka berperilaku hidup sehat. Kami tiap hari belajar untuk tidak lagi berpikir bahwa “say no to free sex” adalah saran yang baik dikatakan pada komunitas hig risk. Kami diajari tidak menularkan penyakit, selain itu terserah –bukan urusan para petugas kesehatan. Kalimat itu terdengar seperti doktrin. Kami menyekat wilayah—membatasi diri pada kesehatan, lalu yang lain urusan siapa ? urusan privat, itu pilihan pribadi, begitu pendapat seorang dosen. Ya serahkan saja pada para rohaniwan dan pemuka agama, serahkan saja para para da’i. Aku tersenyum getir, da’I mana yang mau turun ke daerah segelap itu ? berbicara lugas dan lantang “jauhilah zina, sesungguhnya zina adalah salah satu dosa yang besar … bertaubatlah”. Tiba-tiba aku teringat nabi luth, aku teringat yusuf ….

Pertanyaan itu seperti mengejek diriku sendiri, mengejek teman-temanku. Mengejek kita yang mengaku beragam dan beriman. Bahkan mungkin para pemuka agama, dai, dan ulama-ulama itu bahkan tidak tahu bahwa pelaku maksiat itu sangat banyyaaak. Dan kita kian permisif … (kita ?). merdeksi kemaksiatan yang besar itu hanya dalam angka-angka, menganggapnya sekedar fenomena, dan bekata “astaghfirullah”. Dadaku sesak, ternyata iman ini masih selemah-lemahnya.

Kami disodorkan kertas …. Kelompok berisiko di Surakarta dan jawa tengah : dan tersebutlah nama-nama itu : pengguna narkoba suntik, pekerja seks komersial—psk, sebuah istilah yang dianggap lebih manusiawi dari pelacur, lalu pelanggan seks komersial, homoseksual dan waria, narapidana, ibu rumah tangga … dan angka akumulasi di table paling bawah itu menunjukkan empat digit saudara … ribuan orang. Bahkan komunitas homoseksual di Semarang yang terdata lebih dari seribu tujuh ratus, ratusan juga jumlahnya di daerah kudus, pati, tegal, purwokerto, cilacap …. Angka di kertas itu, tentu saja adalah manusia; punya kepala, punya badan dan jiwa.

Dan yang membuat kami excited jumlah uang yang dikeluarkan lembaga donor ternyata masyaallah. Lebih dari sembilan digit untuk satu lsm saja. ‘bantuan’ yang aku yakin tak mungkin benar-benaar ikhlas tanpa pamrih apa-apa. Untuk uang sebesar itu, aku sulit membayangkan tanpa ‘misi apa-apa’ selain kemanusiaan. Maklum, aku termasuk orang yang amerikaphobia. Yahudiphobia.

Dalam teori promosi kesehatan kami diajari untuk meyakinkan para stake holder bahwa : tiap orang, tiap pihak punya kepentingan ! kepentingan untuk mencegah HIV, IMS lain dan AIDS ini agar tidak menyebar lebih luas dan dahsyat. Tentu saja, ketidakpedualian akan realitas ini akan membuat bola liar virus itu makin tak terkendali … makin banyak yang terjangkit, makin banyak resiko social yang harus ditanggung, makin banyak cost yang harus dikeluarkan. Para lsm bahkan kpad sendiri jiks bekerjasama dengan funding luar negeri tersebut tentu saja harus mengukuti ‘sub agreement’ yang telah ditentukan oleh funding. Jadi apa yang akan dikerjakan oleh lsm maupun lembaga lain yang diajak bekerjasama itu harus sesuai dengan Mou yang telah dirancang oleh pemberi donor. Begitu juga dengan masalah pelaporan. Wajar jika beda funding beda program, beda dana beda pelaporan, beda segmentasi, beda dukungan. Dan ‘kita’ telah benar-benar sangat terikat dengan lembaga funding. Nyaris sebagian besar sumber keuangan dari funding—bahkan ada lsm yang sengaja didirikan untuk menjadi lembaga yang bisa mencairkan dana funding yang nganggur, selesai kerjasama dengan funding, selesai pengabdian. Dan aku makin pesimis dengan kata pengabdian, ketulusan, kemurnian hati dan rasa social yang tinggi.

Yang menjadi paradox lain adalah, funding internsional itu bisa menjamah hingga tingkat kabupaten secara langsung. Tanpa birokrasi satu pintu yang ruwet, seperti tangan panjang—kalau tak mau disebut panjang tangan : intervensi internasional bisa langsung dilakukan ! dan ini ternyata tentu saja membuat para stakeholder daerah senang … ada yang meringankan tugas mereka.

Ketika bertemu dengan salah satu lsm yang menjangkau para pelacur dan waria, setengah berkelakar mereka berkata “kalau ngomong masalah dana kenapa funding lebih tertarik untuk membiayai komunitas homoseksual ?”

“ya pintar-pintarnya kita melobi lah … teman-teman kita kan banyak juga yang nyumbang, ya tiga ratus empat ratus (ribu) kan banyak juga kalau dikumpulkan ”, begitu jawab sang aktivis komunitas gay.

“hahaa … kalian bisa narik sumbangan ke anggota, lah anggota kami baru bisa makan kalau ‘jualan’ … ”

Hatiku makin tergores. Ketika seks menjadi gaya hidup, yang lain menjadikan seks sebagai cara bertahan hidup. Hatiku makin mencelos …. Kadang ada beda yang sangat tipis antara menolong dan memanfaatkan. Antara melihat peluang dan tantangan.

Kami masih berdiskusi, belum habis rasa heran dan penasaran … bahwa ternyata dunia yang kami temui dibaalik ruang kantor dan kuliah adalah dunia yang tak hanya hitam putih. Ada sekian ribu gradasi warna, campur baur hingg tak jelas batasnya. Dan tiba-tiba aku ingin ke toilet, perutku mual.

Tidak ada komentar: