Kamis, 30 Oktober 2008
kekuatan mimpi, mimpi yang menguatkan
Apakah mimpi itu selalau egois ? apa yang aku inginkaan untuk diriku ?
Mungkin egois, jika ternyata mimpi itu hanya memberi kesenangan sementara bagi diri kita sendiri, tapi menjadi penderitan buat orang-orang di sekitar kita.
Tapi apakah ada mimpi yang membuat kita menjadi makin buruk ? ada, mimpi yang hanya berupa angan-anagn yang panjang. Sepertin hayalan, yang bahkan kita sendiri tak mempercayainya bisa benar-benar terjadi. Mimpi yang tak berjiwa, karena kita tak berusaha untuk terus mewujudkannya. Karena kita terlanjur menganggapnya mustahil.
Mimpiku kini bukan hanya untuk aku bahagia sendiri.
Mimpiku kini adalah ibu. Agar ibu kembali menemukan senyumnya yang lama hilang. Agar ada lagi bahagia yang terpaancar di matanya.
Mimpiku kini adalah ibu, agar ibu bisa berjalan tegak menatap keindahan hidup, karena ada beban yang aku kurangi dari pundaknya. Aku tahu mungkin aku tak punya cukup waktu, karena waktu memaang akan selalu memberi kita hadiah berupa keriput dan akumulasi bilangan-bilangan umur yang makin berkurang.
Aku tahu aku tak punya banyak waktu, karena ada masalah yang jika tak segera diselesaikan akan menjadi ledakan. Melukaimu, melukaiku, melukai kita.
Allah beri aku jalan. …
Part 2
Aku merasa aku ingin menjadi apapun, menjadi siapapun, menjadi dimanapun
Pragmatism hidup dan keterdesakan seringkali memojokkan kita ke suatu sudut. Terkepung daan kita pun berkata
‘apapun yang terjadi, terjaadilah’
Aku tak mau menyerah dalam keterpaksaan
Pasti menyakitkan hidup dalam keterpaksaan, seperti dijajah
Hidupku adalah keputusanku
Meski banyak dari kenyataan yang kita jalani, bukanlah yang kita rencanakan
Tapi kita bisa merencanakan ulang hidup kita, dari kenyataan yang kita hadapi hari ini
Saat aku memutuskan menjadi ‘sesuatu’ yang berbeda dari mimpi sebelumnya, aku bukan menyerah
Hanya berhenti mengumpulkan bekaal perjalanan … yang ternyata masih jauh dan tak lempaang
Saat aku memutuskan ‘berkorban’ menjadi ‘siapapun’ sebenarnya hanya sebuah episode pendek untuk bertahan. Karena kesempatan tak datang berkali-kali.
Berbelok mungkin, akan membuat kita menemukan jalan baru yang lebih indah … menuju tujuan kita semula. Asal di kepala kita : masih memlihara mimpi itu. Masih percaya
tantangan orang dewasa
Menjadi orang dewasa seringkali memang tak mudah. Justru karena ia tak lagi bisa berpikir sebebas anak-anak, berpikir tentaang apa saja, bertanya apapun, melakukan apapun yang ia inginkan. Memang tak lagi mudah karena ia tak lagi bisa menangis spontan, kapan pun ia mau. Menjadi orang dewasa adalah masa di mana kita kadang harus terpaksa tersenyum, saat sedih. Menahan tangis, saat kita ingin tersedu-sedu. Menjadi orang dewasa seringkali tak mudah, Karena ternyata masalah tak selesai hanya dengan menangis. Ketika orang-orang dis amping kita tak mengerubungi penuh cemas, melihat kita bersedih. Karena orang dewasa harus banyak belajar, menyelesaikan masalahnya, sendiri saja.
Menjadi dewasa makin tak mudah, Karena kita merasa sungkan mengespresikan cinta kita dengan mencium lembut. Makin lama kita makin menahan diri untuk secara jujur mengungkapkan emosi kita, tanpa membuat orang lain sakit hati.
Entahlah, saat makin jauh dari masa anak-anak kita jadi makin lupa bagaimana rasanya hal-hal kecil bisa membahagiakan kita. Sepotong permen, sebentuk gambar aneh, atau bisa mandi sendiri. Kita makin bingung dengan makna berhasil, kita makin tak tahu bagaimana caranya bmensyukuri keberhasilan ‘kecil’ sebagai nikmat yang besar. Makin jauh dari masa kanak-kanak, kita makin lupa bagaimana caranya tersenyum tulus, senyum menggemaskan yang membuat orang lain ikut bahagia.
Apa yang sebenarnya terjadi pada orang dewasa … mengapa kita sering membuat sesuatu yang sebenarnya mudah menjadi sulit ? mengapa kita tak lagi menikmati indahnya berusaha, tertaih-tatih, membalikkan badan, merangkak, berdiri, berjalan jatuh bangun hingga akhirnya bisa tegak berjalan. Meski menangis, anak-anak tak pernah berhenti berusaha lagi. Anak-anak bisa begitu menikmati indahnya berusaha, tanpa meraasa tertekan, tanpa terbebani. Menikmati perjuangan dengan kesungguhan, itulah yang harus kita pelajari lagi.
Menjadi orang dewasa seringkali sulit, karena kita nyaris kehilangan rasa penasaran kita, nyaris berhenti untuk menanyakan hal-hal yang sebenarnya tidak kita tahu : ini apa ? untuk apa ? kenapa begitu ? Pahala itu apa ? Emang Tuhan rumahnya dimana ? kita telah merasa tahu, meski kita tidak benaar-benar tahu. Menjadi orang dewasa seringkali sulit, kegairahan pembelaajar itu rasanya menguap perlahan, dan kita pun menahan diri untuk menciptakan maha karya kita. Kita merasa bahwa sampan dari kulit jeruk bali adalah hal yang sepele, kita merasa berhasil membuat pesawat kertasa adalah hal yang bodoh. Dan kita mulai belaajar untuk tidak menghargai ‘hal-hal kecil’, karenaa itu kita kesulitan menghasilkan hal-hal besar.
Mungkin orang dewasa serringkali merasa telah memiliki banyak hal, telah sedemikian berkuasa, telah mengecap banyak asin-manisnya kehidupan; dan merasa tak perlu belajar lebih banyak lagi. Semangat dan kegairahan adalah milik anak muda. Mungkin itu yang ada di pikirannya. “sudahlah tak usah macam-macam, kita kan sudah mulai tua”. Dan orang dewasa membangun sedemikian banyak tembok baru dalam hidupnya. Menjadikan hidupnya kian sempit dan sesak, kehilaangan pemandangan indah yang terhampar di sekitarnya. Dan menjadi bahagia adalah hal yang kian sulit dirasakan.
Apa yang sebenarnya mereka miliki dan perlahan menghilang dari diri kita ?
Tapi menjadi orang dewasa adalah sebuaah kebutuhaan, sebuah kemestian yang tak bisa dielakkan. Kembali menjadi anak-anak adalah sebuah kemuinduran. Terutama jika, ingin begitu mudahnya melepaskan sedemikian banyak tanggungjawab di punggung kita. Karena waktu tak bisa di-undo. Masa kanak-kanak itu adalah sebuah masa yang bernama kenangan. Masa yang tak kembali.
Kita kini, mungkin harus duduk di tepoi taman bermain. Memperhatikan anak-anak kecil bermain, memanjat pohon, berayaun, bahkan bertengkar. Mengobservasi manusia-manusia jujur itu, lalu mengambil sebanyak mungkin hikmah. …
Lelaki itu berzakat
Saat adzan solat jumat mulai berkumandang, lelaki itu datang ke gerai kami.
Dan khutbah jumat pun dimulai … tapi lelaki itu tak juga beranjak. “Solat pak ?”. lelaki itu tertawa aneh, seperti menyeringai. saya takut, lelaki-lelaki lain berada di dalam masjid, bahkan loper Koran dan majalah di samping kami juga telah menitipkan barangnya pada kami untuk dijaga. Dan laki-laki aneh itu tak bergeming. Saya dan teman saling berpandangan, takut. Berbagai pikiran buruk muncul di kepala kami.
Laki-laki itu tiba-tiba berdiri, membuang puntung rokoknya, berjalan menghampiri kami. “tulis mbak, di situ …”, ujarnya tiba-tiba sambil menunjuk pada kuintansi pembayaran zakat yang kupegang. “saya mau bayar zakat … ”.
“mau zakat pak ? tapi Bapak belum wajib zakat … ”, ujarku hati-hati
Tidak ada komentar … lelaki itu justru merogoh saku celananya, mengeluarkan uang ribuan dan receh yang ada di
“nih bayar … tulis ya …”
Saya memandang rekan, meminta pertimbangan; dia hanya mengangguk-angguk, antara setuju dan takut. Saya mulai menuliskan kuitansi … meminta lelaki aneh itu menyebutkan namanya, ia berpikir seolah-olah lupa. Ketika saya Tanya alamatnya, ia hanya menjawab … “terserah mbak aja”. Saya mengulangi pertanyaan itu dengan pertanyaan tertutup, “ tinggal di
Lelaki aneh itu mengeluarkan uang seribu tiga ratus rupiah dari kantongnya, memberikannya pada saya.
Dan saya pun menuliskannya, infaq : Rp. 1.300,00. (seribu tiga ratus rupiah). Saya memintanya tanda-tangan, tindakan yang belakangan saya sadari sebagai sebuah tindakan aneh. Dan lelaki itu pun menuliskan angka loo di kolom tandatangan. Saya heran dan mengulangi permintaan saya, “tanda-tangan di sini pak”, tangan saya menunjuk kolom tandantangan. “iya itu tanda tangan saya mbak”, ujarnya menyakinkan saya. Saya tersenyum. Memberikan kuitansi form-1 padanya. Lelaki itu mengucapkan terimakasih, tersenyum-senyum dan mengibas-ngibaskan kuitansinya, lalu pergi begitu saja.
Saya masih berdiri mematung. Di dalam ruangan, adzan berkumandang.
Saya lalu teringat beberapa ucapan para calon muzakki lewat telemarketing saat kami menawarkan jemput zakat : “aduhh … nanti kalau saya setor juga ke lembaga mbak, ndak zakat yang saya kasih tahun ini kebanyakan”. Dan saya pun beristighfar dalam hati. “ya urusan saya dong saya mau zakat apa nggak”, jawab yang lain. Tapi ada juga yang dengan sangat bahagia karena merasa diingatkan, “ya besok saya transfer ya mbak, tolong laporannya disusulkan …”, sangat mudah. Ya, karena hati manusia berbeda-beda.
Hari ini Allah menegur saya, menegur kita, dengan seorang lelaki aneh yang setengah waras, yang dengan sumringah mendatangai amil zakat, menyucikan hartanya dengan infaq. Dan saatnya kita bertanya pada diri kita …
Allah Aku Minta ....
Allah sebenarnya tanpa kukatakan, Engkau tahu apa yang aku rasakan. Engkau Mengerti apa yang aku inginkan. Tapi aku tetap perlu berdoa, meminta, karena Engkau pernah berkata bahwa Engkau senang mendengar suara hambaMu saat memohon padaMu. Aku harus terus meminta padaMu ya Allah, agar kesombongan dalam diri tak semakin mengeras. Menegaskan diri bahwa aku hanya seorang hamba, Yang meski sering mencoba tak menangis, tapi aku Rapuh luar biasa.
Allah ... Engkau Tahu bahwa akan selalu ada kesulitan, jika Engkau tak memudahkan. Dan Tak ada kebahagian di Jiwa, Jika Engkau tak menganugerahkannya... Allah Yang Maha Mendengar ... Allah Yang Maha Tahu ... Allah Yang Maha Kuasa ... Engkau boleh memberikan ujian apapun padaKu karena Engkau memang punya Hak untuk itu. Tapi aku minta, Jadikan Aku Ridha ... hingga dalam keadaan sesulit apapun aku masih bisa terus berhusnudzon KepadaMu. Tak Sampai mengumpatMu, Tak sampai membenciMu, Tak sampai Menjauh dariMu. Engkau Maha Suci dari berbuat Dzolim dan Aniaya. Aku minta kepadamu kelapangdaan untuk ikhlas ... hingga samudranya membersihkan kotornya jiwaku dari prasangka. Sulit Ya Rabb, karena Itu aku minta padamu : Luaskan Jiwa dengan Ikhlas dan baiksangka.
Ya Allah ... katanya Dunia ini penuh warna: di
Kemanapun kaki ini akan melangkah, dengan siapapun aku berjalan, dan dalam situasi apapun aku berada ... aku minta padaMu : " jangan biarkan aku sendiri saja". jangan serahkan aku pada kebodohan dan Hawa Nafsu Jiwa. Aku ini tergesa-gesa, sering lupa, ceroboh dan bakhil. Allah Jika semua ruang dan waktu adalah milikMu, maka aku akan bersedia : berada di manapun, dalam kondisi apapun. Asal Masih dalam lindunganMu, masih dalam naungan CintaMu. Maka Ajari aku cara agar engkau sudi mencintaiku, terus bersamaku, tak meninggalkanku. Ajari aku rela meninggalkan apa saja, siapa saja asal aku bisa dekat denganMu. Ajari aku berani bertemu dengan siapa saja, berbuat apa saja .... asal Engkau RIdha padaKu. Karena aku yakin keridhaanMu membawaku pada keluasan bahagia, kemahasemestaan cinta, keluarbiasaan bahagia.
Aku tahu, Engkau sudah mengabarkannya : Bahwa akulah yang paling bertanggung jawab terhadap diriku. bahwa aku yang akan menuai segala kebaikan dan keburukanku. Bahwa semua akan diganjar setimpal dengan apa yang telah dilakukan. Maka semestinya aku tak perlu menunggu inisiatif orang lain, kambing hitam, atau peran pengganti untuk lakonku sendiri. Aku tahu Ya Allah, tapi seringkali berat untuk melakukan apa yang sudah kita tahu. Pada banyak hal, aku seringkali merasa pengecut. Rapuh. lemah. Bimbang dan Mundur.
Karena itu Ya Rabb, kekuatan yang membolak-balikkan hati. aku minta KepadaMu. tetapkanlah hatiku dalam Iman yang selalu Hidup, kokoh dan Jujur. Berikan Aku kekuatan aqidah, kehusyukan dalam ibadah. ya Allah aku minta pada Mu ilmu, mengobati kebodohanku, meluruskan bengkoku, memandu jalanku. Aku minta padamu Furqon, kemampuan membedakan yang benar dan salah, keluar dari yang meragukan, kembali dari kesesatan pada HIdayah. Aku minta KepadaMu keberanian untuk memutuskan ,mengikuti kata hati yang benar. Aku minta KepadaMu diberi kesabaran dalam berjuang. Dibukakan jalan-jalan kemudahan. Dihujankan keberkahan. Aku minta KepadaMu keberanian mengakui kesalahan, kelapangan memafkan, kejujuran dalam bersyukur. Dekatkan aku pada apa yang membuat aku dekat KepadaMu. Jauhkan aku dari apa Yang membuat aku jauh dariMu. Aku minta padamu agar tidak dijadikan jenuh meminta… Aku meminta padaMu agar tak bosan berusaha, Hingga ku bertemu denganMu dalam husnul khatimah.
Selasa, 02 September 2008
kado terindah untuk orang tua kita
Setelah muhasabah, kami pasti teringat ibu. Terisak dalam tangis yang dalam. Sesak karena merasa tak berdaya, tak cukup punya hujjah untuk berkata “Ya Allah kami adalah anak-anak yang berbakti pada orang tua kami”.
Jika berbakti dikukur dengan waktu, maka kami adalah orang-orang yang kalah. Lima tahun pertama dalam hidup, kami adalah makhluk kecil yang sangat merepotkan bahkan mengesalkan. Bahkan tak terpikir dalam kepala kami (mungkin) kata “berbakti” apalagi merealisasikannya. Masa bersekolah selama delapan tahun kemudian pun kami masih menjadi anak yang merepotkan. Membebani kepala-kepala orang tua kami dengan biaya sekolah yang luar biasa, nilai-nilai pelajaran yang membuat was-was, dan kenakalan kecil yang membuat orang tua kami marah. Tapi mungkin masa-masa inilah yang paling berkesan, kelucuan dan kepolosan kami mungkin akan jadi penyejuk hati orangtua, kadang-kadang—tapi itu pun kemungkinan besar kami lakukan tanpa sengaja. Tanpa niat untuk berbakti dan membalas jasa orang tua. Saat beranjak remaja, saat hormon dalam tubuh kami mulai matang, kami belajar memisahkan diri. Mencoba melepas ikatan-ikatan yang membuat kami dianggap manja dan kekanak-kanakan. Mulai mengurangi intensitas kami di rumah, menjelajah dunia yang aneh di luar rumah. Kami mencari-cari, mengorek-ngorek luasnya warna-warni kehidupan. Kami mulai berbeda pendapat, membantah bahkan memberontak pada aturan dan perintah, hatta datangnya dari orang dewasa yang kami panggil Bapak dan Ibu.kami makin lupa makna berbakti apalagi mengabdi.
Saat masa remaja kian panjang, mendekati masa dewasa. Pergi makin jauh dari orang tua, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kilometer jauhnya terpisah. Atas alasan kuliah atau bekerja. Dan waktu kita pun kian menyempit untuk membersamai orang tua, berada dekat mereka. Menyuguhkan teh hangat di pagi hari, memijat mereka saat lelah, mendengarkan cerita mereka, menjaga mereka saat sakit.
Hati makin nelangsa, justru ketika kesadaran pentingnya berbakti itu kian menguat. Mengukur ketidakmungkinan kembali mendekat secara fisik, jarak dan waktu sudah sedemikian jauhnya. Rasanya begitu sedih, khawatir tak cukup punya waktu untuk berbakti. Makin cemas memikirkan kemungkinan bahwa, ketika seorang anak bernajak dewasa, maka ia akan bekerja, menikah. Barangkali tinggal di tempat yang makin jauh, bersama suami dan anak-anaknya. Saat ijab-qabul dilakukan, saat itu juga ada pergeseran peran dan ketaatan. Setelah Allah dan Rasulnya, maka Suami bagi istri, mertua bagi menantu. Lalu tampaknya waktu kian sempit dan kesempatan kian terbatas untuk berbakti pada orang tua. Tiba-tiba aku makin takut.
“Lalu bagaimana caranya berbakti dalam keterpisahan fisik yang jauh ?”. “perjalanan kita belum selesai … jika kau kembali justru akan membuat orangtuamu sedih” , begitu nasihat seorang teman.
“Nin, bukankah kau sering berdoa … Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa Rabbayani shoghiroo ?” aku mengangguk, mengiyakan. “pada siapa kamu ajukan doa itu?” Tanya temanku kemudian. “pada siapa kamu berharap doa itu dikabulkan? ”
“Allah … Allah”, Jawabku sambil menangis.
“Kita berdoa, meminta pada zat yang Maha Kuasa, yang memiliki segala kekuatan dan kasih sayang … Kita telah menitipkan orang tua kita pada Allah ”
Aku terdiam
“Siapa yang lebih amanah dan lebih baik dari Allah untuk menjaga dan memelihara orang tua kita? “
Aku masih terdiam terisak. Menyadari bahwa orang tua kita butuh lebih dari sekedar doa. Dan kita pun butuh dari sekedar ‘anak biasa’ agar Allah mengabulkan doa kita. Kita butuh menjadi anak yang soleh, butuh menjadi anak yang berbuat kebaikan, butuh menjadi anak yang sungguh-sungguh menuntut ilmu dan bekerja. Agar Allah mengabulkan doa kita untuk orang tua.
Dengan naïf aku pun menghitung … biaya makan, sekolah, baju dan perabotan, transportasi dan rekreasi, rumah tempat berteduh, makan dan minum dan segala biaya hidup sejak statusku tercatat sebagai anak. Ada bilangan ratusan juta sekian-sekian, jumlahnya. Yah … jika hubungan orang tua-anak kita hitung dengan paradigma kapitalis, seperti penjual-pembeli. Maka minimal kita harus ‘mengganti’ ratusan juta sebagai ganti materiil. Mengganti yang materiil saja, barangkali sangat sulit. Ketika seorang anak mulai bekerja, maka penghasilannya akan lebih banyak untuk dirinya, kepentingannya, mungkin menabung untuk biaya menikah. Dan waktu berpenghasilan pribadi itu pun biasanya sempit. Setelah cukup mapan, sebagian besar berpikir untuk menikah, punya keluarga sendiri. Maka penghasilannya untuk mencukupi istri dan anak-anaknya. Orang tua kadang hanya ‘dihadiahi’ apa yang tersisa dari pengeluaran utama. Maka aku berkesimpulan : ternyata mengganti pengorbanan yang berupa materiil saja kita tidak cukup mampu. Apalagi jika kita belum bekerja, apalagi jika kekkikiran dan keegoisan diri masih luarbiasa melekat—mengalahkan arti pengabdian. Yah, aku baru mengerti arti pepatah “kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”.
Lalu cinta, kasih sayang, pengorbanan, kesabaran, ketulusan, ketegaran, keteladan, kepercayaan, kejujuran dan keihlasan … harus kita ganti dengan apa ? jawaban sederhana adalah : dengan hal yang sama. Tiba-tiba aku meragukan diriku sendiri, meragukan bahwa aku mampu memberi seluas cinta, sebesar pengorbanan, cinta dan kesabaran orang tua kami. Aku ragu, tak percaya bahwa usaha kita berbakti bisa sebanding dengan apa yang telah mereka beri. Kepalaku makin pusing. Tiba-tiba kata “berbakti” menjadi utopia, rasa malu meluap menyesakkan dada. Ternyata kita bukan siapa-siapa. Saat hati yang lain bersyukur atas karunia orang tua yang sangat indah, hati yang lain mencelos, khawatir dan takut … mungkin tak pernah bisa sempurna usaha kita ‘membalas’ kebaikan orang tua kita.
“lalu apa balasan yang mendekati sama dalam berbakti pada orang tua ?”
“Surga”, jawab temanku singkat.
Dadaku tiba-tiba gemuruh. Hadiah apa yang lebih baik dari surga ? aku menangis. Surga, usaha yang luar biasa untuk mendapatkannya. Apalagi menghadiahkannya untuk orang tua kita, bukti cinta yang nyata.
Temanku tersenyum, aku juga tersenyum. Bukan saatnya menangisi ketidakberdayaan dan menyerah. Tapi bangkit dan berusaha, hadiah istimewa itu butuh perjuangan luar biasa agar kelak kita bisa menghadiahkannya untuk orang tua tercinta.
Dalam jauh dan dekat kita tetap bisa berbakti, selama kita tetap berusaha menjadi orang baik dan berbuat kebaikan. Berbakti dengan cara membuat mereka ridha dan dengan itu Allah menjadi Ridha pada kita, mengabulkan doa kita, terutama agar Allah menyempurnakan kebaikan untuk mereka, menjaga mereka.
Dalam jauh kita bisa berbakti. Menggunakan potensi diri (hasil didikan mereka) untuk sebanyak mungkin amal kebaikan dan memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Pahala kebaikan itu akan mengalir pada mereka. Menjadi hujjah mereka di hadapan Allah kelak. Bahwa mereka telah dengan sangat amanah, mendidik kita sebagai titipan-Nya.
Dalam jauh kita bisa berbakti. Membelanjakan harta titipan orang tua pada kita, untuk sebanyak mungkin kemaslahatan di jalan Allah. Bukan untuk berfoya-foya, tabdzir apalagi maksiat, pahala itu akan mengalir untuk mereka. Insyaallah.
Dalam jauh kita bisa berbakti, meneruskan kebaikan orang tua, menyambung silaturahim, menjaga nama baik dan kehormatan mereka, memuliakan keluarga. Mendoakan mereka dan orang-orang yang mereka cintai.
Kita bisa berbakti … jika kita mencari hidayah, Allah memberi kita hidayah. Membuat kita mengerti makna berbakti, menunjukkan jalan untuk berbakti …
Tiba-tiba aku jadi rindu …
dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya hingga tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya empat puluh tahun dia berdoa ”ya Tuhan-ku berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau Ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh Aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang muslim” (Al-Ahqaf 15)
(bunda ze, syukron atas percakapan yang begitu berkesan itu)
Selasa, 01 Juli 2008
Saat Menghadapi Pilihan Sulit

Allah sebenarnya tanpa kukatakan, Engkau tahu apa yang aku rasakan. Engkau Mengerti apa yang aku inginkan. Tapi aku tetap perlu berdoa, meminta, karena Engkau pernah berkata bahwa Engkau senang mendengar suara hambaMu saat memohon padaMu. Aku harus terus meminta padaMu ya Allah, agar kesombongan dalam diri tak semakin mengeras. Menegaskan diri bahwa aku hanya seorang hamba, Yang meski sering mencoba tak menangis, tapi Rapuh luar biasa.
Allah ... Engkau Tahu bahwa akan selalu ada kesulitan, jika Engkau tak memudahkan. Dan Tak ada kebahagian di Jiwa, Jika Engkau tak menganugerahkannya... Allah Yang Maha Mendengar ... Allah Yang Maha Tahu ... Allah Yang Maha Kuasa ... Engkau boleh memberikan ujian apapun padaKu karena Engkau memang punya Hak untuk itu. Tapi aku minta, Jadikan Aku Ridha ... hingga dalam keadaan sesulit apapun aku masih bisa terus berhusnudzon KepadaMu. Tak Sampai mengumpatMu, Tak sampai membenciMu, Tak sampai Menjauh dariMu. Engkau Maha Suci dari berbuat Dzolim dan Aniaya. Aku minta kepadamu kelapangdaan untuk ikhlas ... hingga samudranya membersihkan kotornya jiwaku dari prasangka. Sulit Ya Rabb, karena Itu aku minta padamu : Luaskan Jiwa dengan Ikhlas dan baiksangka.
Ya Allah ... katanya Dunia ini penuh warna: di sana bukan hanya ada orang baik, tapi juga jahat dan dengki, bukan hanya ada tawa tapi juga kepedihan dan kesakitan, keputusasaan dan makar durhaka. ya Allah, Katanya dunia itu luas, bulat dan selalu berputar ... maka aku takkan selalu di atas, tapi di bawah, di samping, tak hanya berpijak, terlempar kadang. Terhempas dan Jatuh. sunnatullah Gravitasi.
Kemanapun kaki ini akan melangkah, dengan siapapun aku berjalan, dan dalam situasi apapun aku berada ... aku minta padaMu : " jangan biarkan aku sendiri saja". jangan serahkan aku pada kebodohan dan Hawa Nafsu Jiwa. Aku ini tergesa-gesa, sering lupa, ceroboh dan bakhil. Allah Jika semua ruang dan waktu adalah milikMu, maka aku akan bersedia : berada di manapun, dalam kondisi apapun. Asal Masih dalam lindunganMu, masih dalam naungan CintaMu. Maka Ajari aku cara agar engkau sudi mencintaiku, terus bersamaku, tak meninggalkanKu. Ajari aku rela meninggalkan apa saja, siapa saja asal aku bisa dekat denganMu. Ajari aku berani bertemu dengan siapa saja, berbuat apa saja .... asal Engkau RIdha padaKu. Karena aku yakin keridhaanMu membawaku pada keluasan bahagia, kemahasemestaan cinta, keluarbiasaan bahagia.
Aku tahu, Engkau sedah mengabarkannya : Bahwa akulah yang paling bertanggung jawab terhadap diriku. bahwa aku yang akan menuai segala kebaikan dan keburukanku. Bahwa semua akan diganjar setimpal dengan apa yang telah dilakukan. Maka semestinya aku tak perlu menunggu inisiatif orang lain, kambing hitam, atau peran pengganti untuk lakonku sendiri. Aku tahu Ya Allah, tapi seringkali berat untuk melakukan apa yang sudah kita tahu. Pada banyak hal, aku seringkali merasa pengecut. Rapuh. lemah. Bimbang dan Mundur.
Karena itu Ya Rabb, kekuatan yang membolak-balikkan hati. aku minta KepadaMu. tetapkanlah hatiku dalam Iman yang selalu Hidup, kokoh dan Jujur. Berikan Aku kekuatan aqidah, kehusyukan dalam ibadah. ya Allah aku minta pada Mu ilmu, mengobati kebodohanku, meluruskan bengkoku, memandu jalanku. Aku minta padamu Furqon, kemampuan membedakan yang benar dan salah, keluar dari yang meragukan, kembali dari kesesatan pada HIdayah. Aku minta KepadaMu keberanian untuk memutuskan ,mengikuti kata hati yang benar. Aku minta KepadaMu diberi kesabaran dalam berjuang. Dibukakan jalan-jalan kemudahan. Dihujankan keberkahan. Aku minta KepadaMu keberanian mengakui kesalahan, kelapangan memafkan, kejujuran dalam bersyukur. Dekatkan aku pada apa yang membuat aku dekat KepadaMu. Jauhkan aku dari apa Yang membuat aku jauh dariMu. Aku minta padamu agar tidak dijadikan jenuh meminta.... aku minta agar dijadikan tak berhenti berusaha, hingga Engkau Ridha Aku menemuiMu dalam Husnul Khatimah.
Bersyukurlah karena kamu tidak memiliki semua yang diinginkan,
jika kamu memiliki semuanya,apalagi yang hendak dicari?
Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki sesuatu,
sebab hal itu memberimu kesempatan tuk belajar
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi,
karena selama itulah engkau menjadi dewasa
Bersyukurlah atas keterbatasan yang kau miliki,
karena itu memberimu kesempatan tuk memperbaiki diri
Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,
karena hal itu membangun kekuatan dan karaktermu
Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang kau perbuat,
karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga
Bersyukurlah ketika engkau lelah dan tak berdaya,
karena berarti engkau telah membuat suatu perbedaan
Adalah mudah tuk bersyukur atas hal-hal yang baik
Adapun kehidupan yang bermakna adalah bagi mereka bersyukur atas kesulitan yang dihadapi
Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif
(anonymous)
