Kamis, 13 November 2008

Sebuah Rahasia Menjadi Pemenang

(disarikan dari sebuah tulisan seseorang …)

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecilyang menggelar lomba lari

Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.

Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta...

Perlombaan dimulai...

Secara jujur:
Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara.
Terdengar suara:
"Oh, jalannya terlalu sulitttt!!
Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak."

Yang lain berkata :

"Tidak ada kesempatan untuk berhasil...Menaranya terlalu tinggi...!!

Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu...

... Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi...dan semakin tinggi..

Penonton terus bersorak

"Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!"

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah...

Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi...

DIA TIDAK AKAN MENYERAH!!!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!
SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?

Ternyata, Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu.

Selalu pikirkan kata2 bertuah yang ada.

Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi prilakumu!

Tetaplah selalu berpikir positif

Kadangkala penting berlaku tuli terhadap orang-orang di sekitar kita yang berkata-kata negatif, pesimis dan membuat lemah semangat

Percayalah, bahwa niat yang baik akan selalu mendapat pertolongan untuk mewujudkankannya. Berniat baik, benar, dan lakukan

Ingatlah :

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib dan yang tersembunyi, kemudian akan diberitakan-Nya kepada kamu tentang apa yang telah kamu perbuat".

(Q.S At –Taubah 105)

Badui itu pun menggendong ibunya …


Amru bin Jamad pernah berkata “salah seorang sahabat bertutur pada kami, suatu hari Ali bin abi Thalib dan Umar bin Khattab bertawaf bersama di baaitullah. Tiba-tiba ia mendapati seorang badui menggendong ibunya sambil bertawaf di seputar ka’bah. Orang badui itu berdendang :

Aku adalah hewan tunggangan ibuku yang tidak pernah lari darinya

Jika sang penumpang kelelahan, aku tidak pernah lelah sedikitpun

Pengorbanan ibu saat melahirkan dan menyusui jauh lebih besar

Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah

Inilah aku datang memnuhi panggilan-Mu”

Menyimak lantunan sang badui itu, Ali bin abi Thalib berkata padaa Umar ibnu Khattab : “wahai Abu Hafs, ayo kita bergabung dengan orang itu melakukan thawaf lagi. Semoga Allaah menurunkaan kasih sayangnya pada orang itu dan kita beroleh berkahnya.”

Maka ketika orang badui itu memasuki pelataran ka’bah dan memulai Thawaf sambil melantunkan :

Aku adalaah hewan tunggangan ibuku yang tidak pernah lari darinya

Jika sang penumpang kelelahan, aku tidak pernah lelah sedikitpun

Pengorbanan ibu saat melahirkan dan menyusui jauh lebih besar

Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah

Inilah aku datang memnuhi panggilan-Mu”

Ali bin Abi Thalib tak kuasa menahan haru hatinya, ia berujar “sungguh kebaktiannya sangat mengagumkan. Apa yang dilaakukannya adalah bentuk kesyukuran paling nyata. Semoga Allah membalas budi baktimu dengan balasan yang jauh dari perkiraan setiap insan”


Tapi apakah ini sudah cukup mampu membalas kebaikan ortu ?

Suatu hari, ada orang yang Thawaf sambil menggendong ibunya. Orang yang mengantar ibunya thawaf itu bertaanya pada Rasulullaah SAW , “apakah aku sudah menunaikan hak ibuku ?” rasulullah SAW menjawab “belum, bahkan sedetak nafas pun ”


Dan masih belum cukup

Suatu hari aada seorang sahabat berkata paada Umar Ibnu Khaattab : “sesungguhnya ku memiliki ibu yang telah udzur usia. Setiap kali ia ingin membuang hajat, aku meenggendongnya. Adakah itu berarti aku telaah menunaikan haknya ?” Umar ibnu Khattab menjawab “Belum, sebab ibumu sengaja melakukan itu agar engkau tinggal dekat bersamanya, sedangkan engkau memang melakukan hal itu, namun hatimu ingin berpisah dengannya”

Kekuatan Mimpi

Aku punya mimpi, apa lagi yang lebih kuat dari itu.Mimpi tentang surga yang jauh, yang hanya bisa dirangkai tangganya dari bahan kehidupan, kehidupan yang dekat dan nyata. Surga adalah mimpi terbesar, kenyataan terjauh, sumber kekuatan terdekat.

Jangan takut bermimpi, jika bermimpi saja kita takut, lalu kekuatan apa yang akan kita dapatkan untuk mewujudkannya. Sejauh mana kita meyakini sebuah mimpi, sebesar itulah kekuatan yang kita punya. Itulah kekuatan kita, kekuatan optimism, kekuatan harapan, kekuatan bahwa masa depan itu adalah waaktu yang akan kita temui juga. Bermimpilah, mimpi yang tak tampak hari ini, mimpi yang gaib. Karena semua yang terjadi, dulunya bernama harapan, bernaama mimpi, tak tampak badannya.

Percayalah pada mimpi besarmu. Lakukan dari yang kecil. Karena mimpi adalah kunci untuk kita taklukkan dunia. Dan jangan lelah, jangan berhenti sebelum semua itu jadi nyata. Jangan berhenti, please. Pada siapa lagi aku bisa berharap selaain pada diriku dan Allah. Karena ternyata, hanya itu yang aku miliki. Aku hanya punya diriku yang bisa kupaksa berjuang, yang bisa kuharpkan berkorban, yang bisa kuajak berlari. Aku Cuma punya Allah untuk bercerita, mengadu pada manusia hanya akan menaambah bebaan mereka, membuat mereka sedih. Aku Cuma punya Allah untuk meminta, kekuatan bertahan dan kembali berjalan, kekuatan untuk percaya : bahw Allah tak akan memberiku beban yang aku tak sanggup memikulnya. Karenaa itu aku meminta untuk percaya, percaya pada kekuatan berharap, pada kekuatan ikhtiaar. Bahwa tak ada usaha yang sia-sia, mungkin hari ini tak mampu merobohkan tembok masalah itu, tapi lumpur yang kulemparkan bertubi-tubi, akan meninggalkan bekaas di sana. Menjadi ruh untuk biji-biji harapan, dan hujan akan membuat akar-akarnya tumbuh, daunnya menghijau, makin banyak, hingga kekuatan akar-akar asa itulah yang akan merobohkan tembok besar itu.

Kita memang tak mungkin menciptakan tanaman, tapi kita bisa menyediakan tanahnya untuk tumbuh, memeliharanya dengan air kesabaran. Dan matahari, angin, hujan yang akan menaungi tumbuhnya, menjadi besar. Maka bermimpilah, karena ketika kita bermimpi, bangun dari tidur dan berusaha … maka alam akan memeliharanya, hingga waktu mengantarkannya jadi nyata. Mimpilah, jangan tidur lagi

Kamis, 30 Oktober 2008

Pemimpin dan Komersialisasi Seks Rakyat

Sebenarnya manusia itu makhluk semacam apa ? aku ingin tahu …. Apa yang membuat manusia berbeda dengan makhluk bernama hewan, iblis, jin, dan malaikat. Malaikat pernah diperintahkan sujud pada adam, tapi iblis ada juga yang berbentuk manusia,bahkan dalam alquran allah pernah menyebut manusia bisa lebih buruk dari hewan. Lalu sebenarnya manusia itu makhluk yang seperti apa ?

Aku berkumpul dengan orang-orang yang membuatku nyaman. Merasa aman dan dicintai. Merasa tentram dan bahagia. Dan perjalanan panjang ini seperti perjalanan sidharta (jika benar-benar ada) atau mungkin seperti perjalanan musa (yang sudah merasa tahu banyak, tapi ternyata banyak tidak tahu). Sepanjang jalan aku terus mendebat dan bertanya, tanpa ada khidir yang memberiku jawaban dan mentor. Aku seperti menyusuri dunia yang berbeda. Padahal jalan kutapak ini masih bernama jawa tengah, kakiku masih berpijak di tanah, masih bertemu dengan realita yang nyata.

Kami berhenti di sebuah jembatan, memasuki jalan setapak di bawahnya menuju sebuah bangunan tua yang nyaris roboh. Di seberang jalan ada sebuaah baliho berikuran besar, bergmbar para caleg dari sebuah partai islam. Aku yakin, mereka adalah ustad dan ustadzah yang tak hanya bisa tilawah, tapi sedang berjuang mentransformasikan keagungan ajaran quran ke dalam realitas yang sebenarnya. Menjadikan bahasa langit turun ke bumi, masuk ke hati para manusianya, ada di hatinya, bahkan tegak dalam system pemerintahannya. Aku tersenyum, menyimpan optimism. Sejenak.

Kami memarkir motor di depan sebuah bangunan yang bertuliskan ‘losmen’ batu batanyanya bahkan sudah mulai berjatuhan. Gentengnya menghitam dan bolong, aku yakin pasti bocor waktu hujan. Lantainya semen jaman colonial yang sudah nyaris tak bisa dibedakan lagi dengan tanah kecuali kepadatannya. Aku masih mengobservasi bangunan tua yang bertuliskan ‘losmen’ itu. Dari luar hanya tampak sebuah pintu, dua buah jendela kayu yang sudah dipalang. Di luar berjajar beberapa becak bewrnaa merah dan sepeda motor. Sepintas tak ada yang menyangka jika ada kehidupan manusia di sana. Selayaknya losmen, ada beberapa kamar berjajar berhadapan. Pintu-pintunya tertutup pintu kau yang kusam dan lapuk. Berderik jika dibuka atau ditutup.

Di samping rumah ada sumur untuk mandi dan mencuci, harus manrik timba di sana dengan tali untuk mendapatkan airnya. Di sebelah sumur ada kamar mandi, setengah pintu, yang jika mandi di sana orang lain yang berjalan tentu dengan sangat jelas bisa melihat bagian atas pusar orang yang mandi. Antar lorong kamar ada jemuran bergelantungan, tak hanya baju tapi pakaian dalam, seprei, sarung dan segala macam kain.

“hari ini tidak ada orang, lagi pada keluar”, begitu aku salah seorang penghuni. Perempuan tengah baya yang sedang mencuci. Kami pun beranjak pulang,

Seorang teman merekam setiap sudut bangunan.

“harga sewanya lima ribu rupiah tiap kali pakai’ begitu penjelasan guide kami

“oooo … murah sekali ya”

“ya … mereka melakukan ML di atas tikar itu”, lanjut sang guide

“mas berapa tarif tiap kali ‘jajan’ di sini ? ”

“rata-rata sepuluh sampai tiga puluh ribu rupiah, harga rakyat ”.

Kami tak bisa mendefiniskan perasaan kami. Tikar rombeng yang tentu saja tak empuk, bahkan sebagian sudah dimakan ngengat dan kutu. Bau kamar-kamar itu seperti percampuran aneh dari urine manusia, kelelawar, tikus, kecoa, bau tanah dan lumut. Membayangkan hubungan macam apa yang bisa dilakukan manusia di tempat itu adalah sebuah gambar hitam bersemut di televisi. Kabur. Lebih tak bisa dibayangkan lagi, jika hubungan (seperti suami istri itu) dilakukan dengan pasangan waria yang sudah berulangkali gagal suntik silicon atau laki-laki yang bau, penuh keringat, daki dan berkulit kasar.

Aku melihat semua fragmen dari luar. Dalam hati sebenarnya sangat bersyukur, tempat itu sedang sepi. Tak ada aktivitas. Yang kuceritakn tentang detail di atas adalah hasil cerita temanku, juga pengamatan dari video yang sempat ia rekam.

“Ayo pulang …. Orangnya nggak ada”, begitu ajak temanku

Tujuan kami sebenarnya untuk menemui seorang PSK yang terkena HIV +, seorang perempuan paruh baya, bisu dan tuli pula. Kepala dinas kesehatan kota menitipkan uang setelah kami menceritakan keadaannya. Wanita berumur lebih dari empat puluh tahun itu masih terus menjalankan aktivitas seksualnya. Begitu keterangan sang guide.

Aku memang ingin segera pulang … saat kami membelokkan motor, seorang lelaki bersepeda motor datang, sepertinya ingin mencari seseorang, tapi sama dengan kami—ia tak berhasil menemui orang yang ia maksud. Dari dalam ruangan, dua orang anak muda keluaar lewat pintu. Hatiku tergores, salah seorang dari mereka masih memakai seragam SMA. Kepalaku bertambah pusing.

Di seberang jalan foto para caleg itu masih tersenyum. Aku berdoa, mudah-mudahan mereka diberi kekuatan oleh Allah untuk menyelesaikan permasalahan umat. Menjadi pemimpin di negeri bernama Indonesia ini pasti berat, sangat berat, mungkin akan sangat panjang hisabnya. Tapi aku juga heran, mengapa banyak yang berminat mengajukan diri, bukan karena diminta partai untuk maju… Aku berdoa untuk diriku, “banyak hal”.

Kepalaku makin pusing. Telingaku mengiang-ngiang kata-kata : “dan tiap-tiap kamu akan dimintai pertanggungjawabnnya … ”

Surakarta, 100 tahun sumpah pemuda (14.12 WIB)

Pemuda dan Kompleksitas Seksualitas

Hari sumpah pemuda. Hari ini aku diajak melihat lebih dekat pemuda Indonesia. Solo hari ini sibuk, di tiap pojok kota memerah. Khari ini sang ibu soan ke solo. Segerombolan orang berseragam merah, partisan sebuah partai politik tumpah ke jalan. Laki-laki perempuan, tua-muda, bahkan anak-anak. Tapi wajah-wajah itu sebagian besar adalah wajah-wajah para pemuda Indonesia. Katanya hari ini akan dipasang 28.000 bendera merah putih. Symbol kebangkitan negeri dan kaum mudanya. Lalu jalan menjadi ramai seketika, motor disetel menderu-deru, tanpa helm, bertiga di atas motor … klakson bersahutan, seperti mengusir para pengguna jalan yang melaju pelan. Dan polisi mengatur perlahan, tak beranjak dari tempatnya. Dan para pengguna jalan pun hanya bisa menggerutu, seolah maklum … pemakluman yang sejak lama. Dan hari ini masih 28 oktober 2008, 100 tahun sumpah pemuda.

Kami berbelok ke kantor GF ATM untuk Surakarta. Berbicara dengan pria setengah baya, coordinator GF Surakarta. Di sana kami dihidangkan angka-angka penderita HIV yang jumlahnya sudah ratusan, mulai dari swasta, pns, mahasiswa sampai ibu rumah tangga. Beberapa diantaranya meninggal, yang lain dalam perawatan atau CST kami menyebutnya tiap tahun jumkahnya tak pernah turun, selalu bertambah kasus baru dan meningkat kurvanya. Baguss kalau dilihat oleh funding, artinya jumlah jangkauan makin baik. Makin banyak kasus terungkap makin banyak program intervensi yang bisa dilakukan, tentu saja bukan intervensi untuk berbuat mereka berhenti melakukan aktivitas seksual berisiko—tapi menganjurkan mereka berperilaku hidup sehat. Kami tiap hari belajar untuk tidak lagi berpikir bahwa “say no to free sex” adalah saran yang baik dikatakan pada komunitas hig risk. Kami diajari tidak menularkan penyakit, selain itu terserah –bukan urusan para petugas kesehatan. Kalimat itu terdengar seperti doktrin. Kami menyekat wilayah—membatasi diri pada kesehatan, lalu yang lain urusan siapa ? urusan privat, itu pilihan pribadi, begitu pendapat seorang dosen. Ya serahkan saja pada para rohaniwan dan pemuka agama, serahkan saja para para da’i. Aku tersenyum getir, da’I mana yang mau turun ke daerah segelap itu ? berbicara lugas dan lantang “jauhilah zina, sesungguhnya zina adalah salah satu dosa yang besar … bertaubatlah”. Tiba-tiba aku teringat nabi luth, aku teringat yusuf ….

Pertanyaan itu seperti mengejek diriku sendiri, mengejek teman-temanku. Mengejek kita yang mengaku beragam dan beriman. Bahkan mungkin para pemuka agama, dai, dan ulama-ulama itu bahkan tidak tahu bahwa pelaku maksiat itu sangat banyyaaak. Dan kita kian permisif … (kita ?). merdeksi kemaksiatan yang besar itu hanya dalam angka-angka, menganggapnya sekedar fenomena, dan bekata “astaghfirullah”. Dadaku sesak, ternyata iman ini masih selemah-lemahnya.

Kami disodorkan kertas …. Kelompok berisiko di Surakarta dan jawa tengah : dan tersebutlah nama-nama itu : pengguna narkoba suntik, pekerja seks komersial—psk, sebuah istilah yang dianggap lebih manusiawi dari pelacur, lalu pelanggan seks komersial, homoseksual dan waria, narapidana, ibu rumah tangga … dan angka akumulasi di table paling bawah itu menunjukkan empat digit saudara … ribuan orang. Bahkan komunitas homoseksual di Semarang yang terdata lebih dari seribu tujuh ratus, ratusan juga jumlahnya di daerah kudus, pati, tegal, purwokerto, cilacap …. Angka di kertas itu, tentu saja adalah manusia; punya kepala, punya badan dan jiwa.

Dan yang membuat kami excited jumlah uang yang dikeluarkan lembaga donor ternyata masyaallah. Lebih dari sembilan digit untuk satu lsm saja. ‘bantuan’ yang aku yakin tak mungkin benar-benaar ikhlas tanpa pamrih apa-apa. Untuk uang sebesar itu, aku sulit membayangkan tanpa ‘misi apa-apa’ selain kemanusiaan. Maklum, aku termasuk orang yang amerikaphobia. Yahudiphobia.

Dalam teori promosi kesehatan kami diajari untuk meyakinkan para stake holder bahwa : tiap orang, tiap pihak punya kepentingan ! kepentingan untuk mencegah HIV, IMS lain dan AIDS ini agar tidak menyebar lebih luas dan dahsyat. Tentu saja, ketidakpedualian akan realitas ini akan membuat bola liar virus itu makin tak terkendali … makin banyak yang terjangkit, makin banyak resiko social yang harus ditanggung, makin banyak cost yang harus dikeluarkan. Para lsm bahkan kpad sendiri jiks bekerjasama dengan funding luar negeri tersebut tentu saja harus mengukuti ‘sub agreement’ yang telah ditentukan oleh funding. Jadi apa yang akan dikerjakan oleh lsm maupun lembaga lain yang diajak bekerjasama itu harus sesuai dengan Mou yang telah dirancang oleh pemberi donor. Begitu juga dengan masalah pelaporan. Wajar jika beda funding beda program, beda dana beda pelaporan, beda segmentasi, beda dukungan. Dan ‘kita’ telah benar-benar sangat terikat dengan lembaga funding. Nyaris sebagian besar sumber keuangan dari funding—bahkan ada lsm yang sengaja didirikan untuk menjadi lembaga yang bisa mencairkan dana funding yang nganggur, selesai kerjasama dengan funding, selesai pengabdian. Dan aku makin pesimis dengan kata pengabdian, ketulusan, kemurnian hati dan rasa social yang tinggi.

Yang menjadi paradox lain adalah, funding internsional itu bisa menjamah hingga tingkat kabupaten secara langsung. Tanpa birokrasi satu pintu yang ruwet, seperti tangan panjang—kalau tak mau disebut panjang tangan : intervensi internasional bisa langsung dilakukan ! dan ini ternyata tentu saja membuat para stakeholder daerah senang … ada yang meringankan tugas mereka.

Ketika bertemu dengan salah satu lsm yang menjangkau para pelacur dan waria, setengah berkelakar mereka berkata “kalau ngomong masalah dana kenapa funding lebih tertarik untuk membiayai komunitas homoseksual ?”

“ya pintar-pintarnya kita melobi lah … teman-teman kita kan banyak juga yang nyumbang, ya tiga ratus empat ratus (ribu) kan banyak juga kalau dikumpulkan ”, begitu jawab sang aktivis komunitas gay.

“hahaa … kalian bisa narik sumbangan ke anggota, lah anggota kami baru bisa makan kalau ‘jualan’ … ”

Hatiku makin tergores. Ketika seks menjadi gaya hidup, yang lain menjadikan seks sebagai cara bertahan hidup. Hatiku makin mencelos …. Kadang ada beda yang sangat tipis antara menolong dan memanfaatkan. Antara melihat peluang dan tantangan.

Kami masih berdiskusi, belum habis rasa heran dan penasaran … bahwa ternyata dunia yang kami temui dibaalik ruang kantor dan kuliah adalah dunia yang tak hanya hitam putih. Ada sekian ribu gradasi warna, campur baur hingg tak jelas batasnya. Dan tiba-tiba aku ingin ke toilet, perutku mual.

kekuatan mimpi, mimpi yang menguatkan


Apakah mimpi itu selalau egois ? apa yang aku inginkaan untuk diriku ?
Mungkin egois, jika ternyata mimpi itu hanya memberi kesenangan sementara bagi diri kita sendiri, tapi menjadi penderitan buat orang-orang di sekitar kita.

Tapi apakah ada mimpi yang membuat kita menjadi makin buruk ? ada, mimpi yang hanya berupa angan-anagn yang panjang. Sepertin hayalan, yang bahkan kita sendiri tak mempercayainya bisa benar-benar terjadi. Mimpi yang tak berjiwa, karena kita tak berusaha untuk terus mewujudkannya. Karena kita terlanjur menganggapnya mustahil.

Mimpiku kini bukan hanya untuk aku bahagia sendiri.
Mimpiku kini adalah ibu. Agar ibu kembali menemukan senyumnya yang lama hilang. Agar ada lagi bahagia yang terpaancar di matanya.

Mimpiku kini adalah ibu, agar ibu bisa berjalan tegak menatap keindahan hidup, karena ada beban yang aku kurangi dari pundaknya. Aku tahu mungkin aku tak punya cukup waktu, karena waktu memaang akan selalu memberi kita hadiah berupa keriput dan akumulasi bilangan-bilangan umur yang makin berkurang.

Aku tahu aku tak punya banyak waktu, karena ada masalah yang jika tak segera diselesaikan akan menjadi ledakan. Melukaimu, melukaiku, melukai kita.

Allah beri aku jalan. …

Part 2
Aku merasa aku ingin menjadi apapun, menjadi siapapun, menjadi dimanapun
Pragmatism hidup dan keterdesakan seringkali memojokkan kita ke suatu sudut. Terkepung daan kita pun berkata
‘apapun yang terjadi, terjaadilah’

Aku tak mau menyerah dalam keterpaksaan
Pasti menyakitkan hidup dalam keterpaksaan, seperti dijajah
Hidupku adalah keputusanku
Meski banyak dari kenyataan yang kita jalani, bukanlah yang kita rencanakan
Tapi kita bisa merencanakan ulang hidup kita, dari kenyataan yang kita hadapi hari ini

Saat aku memutuskan menjadi ‘sesuatu’ yang berbeda dari mimpi sebelumnya, aku bukan menyerah
Hanya berhenti mengumpulkan bekaal perjalanan … yang ternyata masih jauh dan tak lempaang
Saat aku memutuskan ‘berkorban’ menjadi ‘siapapun’ sebenarnya hanya sebuah episode pendek untuk bertahan. Karena kesempatan tak datang berkali-kali.
Berbelok mungkin, akan membuat kita menemukan jalan baru yang lebih indah … menuju tujuan kita semula. Asal di kepala kita : masih memlihara mimpi itu. Masih percaya

tantangan orang dewasa

Menjadi orang dewasa seringkali memang tak mudah. Justru karena ia tak lagi bisa berpikir sebebas anak-anak, berpikir tentaang apa saja, bertanya apapun, melakukan apapun yang ia inginkan. Memang tak lagi mudah karena ia tak lagi bisa menangis spontan, kapan pun ia mau. Menjadi orang dewasa adalah masa di mana kita kadang harus terpaksa tersenyum, saat sedih. Menahan tangis, saat kita ingin tersedu-sedu. Menjadi orang dewasa seringkali tak mudah, Karena ternyata masalah tak selesai hanya dengan menangis. Ketika orang-orang dis amping kita tak mengerubungi penuh cemas, melihat kita bersedih. Karena orang dewasa harus banyak belajar, menyelesaikan masalahnya, sendiri saja.

Menjadi dewasa makin tak mudah, Karena kita merasa sungkan mengespresikan cinta kita dengan mencium lembut. Makin lama kita makin menahan diri untuk secara jujur mengungkapkan emosi kita, tanpa membuat orang lain sakit hati.


Entahlah, saat makin jauh dari masa anak-anak kita jadi makin lupa bagaimana rasanya hal-hal kecil bisa membahagiakan kita. Sepotong permen, sebentuk gambar aneh, atau bisa mandi sendiri. Kita makin bingung dengan makna berhasil, kita makin tak tahu bagaimana caranya bmensyukuri keberhasilan ‘kecil’ sebagai nikmat yang besar. Makin jauh dari masa kanak-kanak, kita makin lupa bagaimana caranya tersenyum tulus, senyum menggemaskan yang membuat orang lain ikut bahagia.

Apa yang sebenarnya terjadi pada orang dewasa … mengapa kita sering membuat sesuatu yang sebenarnya mudah menjadi sulit ? mengapa kita tak lagi menikmati indahnya berusaha, tertaih-tatih, membalikkan badan, merangkak, berdiri, berjalan jatuh bangun hingga akhirnya bisa tegak berjalan. Meski menangis, anak-anak tak pernah berhenti berusaha lagi. Anak-anak bisa begitu menikmati indahnya berusaha, tanpa meraasa tertekan, tanpa terbebani. Menikmati perjuangan dengan kesungguhan, itulah yang harus kita pelajari lagi.

Menjadi orang dewasa seringkali sulit, karena kita nyaris kehilangan rasa penasaran kita, nyaris berhenti untuk menanyakan hal-hal yang sebenarnya tidak kita tahu : ini apa ? untuk apa ? kenapa begitu ? Pahala itu apa ? Emang Tuhan rumahnya dimana ? kita telah merasa tahu, meski kita tidak benaar-benar tahu. Menjadi orang dewasa seringkali sulit, kegairahan pembelaajar itu rasanya menguap perlahan, dan kita pun menahan diri untuk menciptakan maha karya kita. Kita merasa bahwa sampan dari kulit jeruk bali adalah hal yang sepele, kita merasa berhasil membuat pesawat kertasa adalah hal yang bodoh. Dan kita mulai belaajar untuk tidak menghargai ‘hal-hal kecil’, karenaa itu kita kesulitan menghasilkan hal-hal besar.

Mungkin orang dewasa serringkali merasa telah memiliki banyak hal, telah sedemikian berkuasa, telah mengecap banyak asin-manisnya kehidupan; dan merasa tak perlu belajar lebih banyak lagi. Semangat dan kegairahan adalah milik anak muda. Mungkin itu yang ada di pikirannya. “sudahlah tak usah macam-macam, kita kan sudah mulai tua”. Dan orang dewasa membangun sedemikian banyak tembok baru dalam hidupnya. Menjadikan hidupnya kian sempit dan sesak, kehilaangan pemandangan indah yang terhampar di sekitarnya. Dan menjadi bahagia adalah hal yang kian sulit dirasakan.

Apa yang sebenarnya mereka miliki dan perlahan menghilang dari diri kita ?

Tapi menjadi orang dewasa adalah sebuaah kebutuhaan, sebuah kemestian yang tak bisa dielakkan. Kembali menjadi anak-anak adalah sebuah kemuinduran. Terutama jika, ingin begitu mudahnya melepaskan sedemikian banyak tanggungjawab di punggung kita. Karena waktu tak bisa di-undo. Masa kanak-kanak itu adalah sebuah masa yang bernama kenangan. Masa yang tak kembali.

Kita kini, mungkin harus duduk di tepoi taman bermain. Memperhatikan anak-anak kecil bermain, memanjat pohon, berayaun, bahkan bertengkar. Mengobservasi manusia-manusia jujur itu, lalu mengambil sebanyak mungkin hikmah. …